sejujurnya ini kali pertama gue kenal laki-laki sepasif dia.
untuk kali ini gue minta maaf menyertakan elo dalam hidup gue, sungguh demi apapun gue nggak bisa lagi ngelak dan sulit cari jalan yang bisa bantu gue keluar dari situasi ini.
nggak, elo nggak salah. gue pun nggak salah dan nggak rela diposisikan salah! tapi kenapa kemudian semua seolah ngejebak entah cuma gue atau beserta elo ikut masuk ke dalam situasi ini. situasi yang sejujurnya gue bilang sulit, pahit dan serba salah.
gue nggak pernah memaksakan ini semua terjadi bahkan juga nggak pernah merencanakan ini semua, segalanya mendadak terjadi, tersaji begitu saja tanpa pesanan dan izin untuk terhidang lalu dinikmati. pun jika Tuhan memang yang memiliki kuasa atas segalanya, saya berani berkata Ia begitu memiliki kuasa penuh hingga tanpa berkata dan memberikan kesempatan untuk menolak langsung menjadikannya seperti ini.
jangan tanya gue kenapa, dan bagaimana! nggak akan ada satupun jawaban yang bisa gue jelaskan.
dan begitupun lancar gue menjelaskan segalanya secara deskriptif, seyakin-yakinnya elo nggak akan percaya segalanya.
sejak awal gue nggak pernah punya mimpi atau sedikit lancang bayangan pun gue nggak pernah terbersit untuk kemudian bisa seperti ini kondisinya. seperti halnya seorang rakyat jelata yang begitu mengagumi sosok raja kecil, ikut terjun dalam euphoria suka cita bagaimana menyukai sesuatu tanpa akses. begitu mungkin.
hingga kemudian suatu kebetulan mendadak datang dan tanpa terencana hingga kemudian melabuhkan kita pada posisi yang mungkin sama-sama serba salah.
belakangan mungkin gue lah yang sedikit memaksakan kehendak hanya berdasarkan kata hati, maka maafkanlah! sesadar-sadarnya, gue akui gue pemicu segalanya. tapi sekali lagi, untuk setiap bangkai dan wangi bunga yang disembunyikan pasti akan ketahuan bukan asalnya?
serapat apapun gue kunci mulut gue untuk menyimpan segalanya, segala yang gue rasakan dan terima, mata orang lain nggak akan pernah bisa gue tutup dengan sesuka hati, mereka tidak buta, bukan?
tapi maafkanlah sekali lagi jika ini memang terlalu memaksa, dan sejujurnya gue katankan inilah kali pertama gue berani bertaruh malu, dan rasa dongkol demi satu hal.
terima kasih yang sebanyaknya setelah sedemikian banyak hal yang direncanakan dan terlaksanakan (meski kemudian lagi-lagi segalanya gue paksakan). meski tak menjadi apapun yang memiliki arti paling tidak semua yang sudah terlewati akan bisa kita kenang sepanjang hayat kita selama kita masih ingin menyimpannya! terima kasih untuk berbagai arti yang kemudian bisa gue maknai dari semua yang sudah terlewatkan.